Ngentot Adik Coba Anal Seks

Ngentot Adik Coba Anal Seks | kebiasaan teman-temanku setiap jam istirahat adalah menggoda perempuan - perempuan dan menilai keseksian tiap perempuan siswa-siswi smu di sekolah kita, pulang sekolah jam 2 sore tiap harinya, sementara siswa-siswi smp udah mengakhiri pelajaran pada jam 12, bertepatan dngn jam istirahat kita.

Setiap saat itulah, teman-temanku berdiri bersandar di balkon dan menonton siswa-siswi smp sekolah kami yangg sedang berjalan pulang sekolah. Seringkali mereka mengomentari siswi-siswi mana yaang sexy, imut atau cantik, dan terutama yangg menurut mereka memiliki tubuh yangg seksi.

Beberapa temanku bahkan sering bersiul pada mereka, atau menggoda mereka, hanya untk menarik perhatian salah satu dari perempuan - perempuan smp yangg cantik-cantik itu. Hari ini pun begittu , sementara aku duduk di bangku panjang sembari mendengarkan iPod ku.

"Dit! Dit! Verni tuh! " Nah, di antara semua perempuan smp yangg lain, ada satu perempuan yangg paling menarik perhatian hampir semua temanku (dan sepertinya hampir semua cowok di sma dan smp, dan mgkin bahkan beberapa bapa guru).

Wanita itu adalah Verni, adik wanita ku. Verni 2 tahun lebih muda dariku. Sebenarnya Verni sama seperti perempuan - perempuan yangg lain, dngn tinggi badan 155 cm dan berat 46 kg, Verni tergolong kecil mungil, tidak tinggi semampai.

Rambutnya yangg hitam pun hanya dipotong pendek sebatas leher. emang wajahnya sangat imut dan kulitnya pun putih mulus dan lembut, tapi bukan itu yangg membuat teman-temanku tergila-gila padanya. "Duh gilak tuh anak cute banget sih! " "Sexy banget, maksud lu. ! ? " Yap.

Kontras dngn wajahnya yangg sangat imut seperti anak kecil, Verni bisa dibilang sangat sexy. Alasan utamanya—dan aku yakin buah dada nya inilah yangg selalu dilihat oleh hampir semua cowok Verni memiliki dada berukuran 34 c, yangg termasuk susu yangg sangat besar untk anak seusianya.

Bentuk buah dada nya pun sangat bulat, sexy dan penuh. "Duh gue ngaceng. Gede banget gilak. " "Hus! Ada kakaknya tuh. Ntar lu dibunuh. Hahaha" Tiba-tiba teman-temanku ber "Oooh. ! " seru.

Aku melongok ke arah lantai dasar, mencari tahu penyebab "Ooh. ! " tiba-tiba itu. Pantas, pikirku. Verni sedang berlari berkejar-kejaran dngn beberapa perempuan lain. Aku tahu apa yangg diperhatikan oleh teman-temanku: dada Verni yangg berguncang-guncang menggiurkan saat dia berlari.

Aku melirik ke arah teman-temanku, dan aku dapat ngeliat tonjolan-tonjolan tegang di bagian tengah celana panjang mereka. "Heh! Udah! Adek gue bukan tontonan! " ujarku. Teman-temanku menoleh. "Yee. Salahnya adek lu punya badan kayak gitu. " kata Martin, salah satu temanku.

" buah dada kayak gitu, lebih tepatnya, " kata yangg lain. "Ah, udalah! Nyebelin. " kataku gusar. Aku berdiri dan berjalan pergi, meninggalkan teman-temanku yangg menatapku gelisah. Sebenarnya hal ini udah membuatku gelisah beberapa waktu belakangan ini.

Sejak adikku kelas 6 sd, entah kenapa seolah-olah dadanya seperti dipompa; pertumbuhannya pesat sekali! Hampir setiap pergantian semester, adikku ini mengeluh bra-nya udah kesempitan, dan ternyata ukurannya udah bertambah besar lagi.

Di saat teman-teman seusianya masih belum mengenakan bra, Verni udah mulai memilih bra mana yangg mesti dikenakannya, dan saat teman-temannya mulai merasakan pertumbuhan di dada mereka, buah dada Verni bahkan udah jauh lebih besar dari milik mamah ku.

Dan, yangg paling membuatku khawatir, adalah kenyataan bahwa bagaimana pun, aku jg seorang cowok normal, yangg jg bisa terangsang bila ngeliat sepasang dada yangg bulat dan sangat besar seperti miliknya.

Bahkan udah beberapa lama ini aku menahan godaan untk tidak melakukan sesuatu yangg tidak sepantasnya dilakukan oleh seorang kakak pada adiknya "Kaak. Deek. Turun sini! udh mulai nih upacaranya! " "Iyaa. Bentar aku turun! " ayah ku mmg gil.

Beliau dan mamah ku sedang menonton upacara pembukaan Euro di ruang keluarga. ayah ku mmg sangat menggemari sepak bola, begittu pula dngn aku dan Verni. hanya mamah ku yangg tidak terlalu suka sepak bola, tapi karna dikeroyok 3 orang penggemar bola di rumah, akhirnya mama menyerah dan ikut menonton.

Toh, beliau ikut senang ngeliat upacara pembukaan yangg meriah. "Heeii bagus loh ini! " suara mamah ku yangg mmg gil kali ini. "Yaya bentaarr! Nanggung! " aku berteriak. "Ngapain sih, kamu? " Aku tak menjawab.

Aku sedang ngeliat foto-foto liburan keluargaku yangg terakhir ke Bali. Well, sebenarnya hanya foto Verni yangg kulihat. sudah beberapa minggu—mungkin beberapa bulan—terakhir ini aku sering menghabiskan malamku memelototi foto-foto Verni di komputerku.

Makan apa sih kamu, aku sering berpikir begittu. Koq bisa jadi segede itu. Aku sampai ke foto-foto kami di pantai. Verni mengenakan tank-top putih dan kain sarung Bali di foto itu.

Aku menekan tombol 'next' , foto berikutnya. Verni sedang bermain air di pantai. Tank-topnya basah, samar-samar memperlihatkan bikininya yangg berwarna biru muda, keliatan kesulitan menahan dadanya yangg besar. Celanaku mulai menyempit di bagian selangkangan.

'Next' lagi. Oh, ini video, batinku. Masih Verni yangg bermain air. Tapi kali ini dia berlari kecil. Mataku terpaku pada dadanya yangg berguncang-guncang. Sangat menggiurkan. Aku merasakan tonjolan di celanaku semakin membesar.

Aku merogohkan tanganku ke dlm celana, dan perlahan mulai mengocok peler ku yangg sangat tegang. Aku memejamkan mata, pikiranku mulai melayang. "Heh! Kakak liat apa tuh sampe melotot gitu? ! " Aku melonjak kaget di kursiku.

Astaga! Aku lupa mengunci pintu tembusan antara kamarku dan kamarnya! Verni berjalan mendekat. Cepat-cepat aku menarik tanganku keluar dari celana. Tapi aku tak tahu bagaimana menyembunyikan tonjolan besar dari balik celanaku ini! Verni udah membungkuk di belakangku.

"Eeh. Nggak koq. Ini lagii melihat foto-video waktu kami ke Bali terakhir. " kataku gugup. Aku buru-buru menarik bantal kecil di ranjangku untk menutupi selangkanganku. "Hoo. Hm? Koq isinya fotoku semua? " katanya sembari menekan-nekan tombol next-next-next-next.

Emang foto-fotonya udah aku kelompokkan kedalam satu folder sendiri. "Eeh? Eh. Mm. Biar gampang milihnya kakak kelompokin ke dalem satu folder gitu. " Jantungku berdegup-degup kencang. "Ooo. Yaya. " aku merasakan ada nada keraguan dibalik suaranya, "Yuk turun. udh mulai tuh! Lucu loh ada sapi-sapi segala! " "Oke oke. Yuk. " Aku mematikan komputerku.

Verni menggamit lenganku saat kami berjalan keluar kamar dan turun ke bawah. kami duduk bersebelahan. "Kak, " tiba-tiba ia berbisik. Sangat pelan. "Hm? " "Kakak ngaceng ya tadi waktu melihat fotoku? Dosa loh kaak. Hihihi. " bisiknya.

"hah? ! Eh. Ng. Nggak koq! " ujarku gelagapan. "Aku liat koq kak tadi. " bisik Verni. Senyum jahil melintas di wajahnya yangg imut. "Eh. " "Bilang ibu aahh. " senyumnya semakin jahil.

"Ehh! Eh jngn Verni! " bisikku panik. "Hehehe nggak dehh. " kami terdiam. Tomas Ujfalusi dan Alexander Frei, kapten Swiss dan Ceko, berjalan memasuki lapangan. Pertandingan segera dimulai. "Kak, " bisiknya lagi.

"Ya? " "Punya kakak gede banget. " Cepat-cepat aku menarik bantal. "Kak, bangun! udh mau kick off tuh! " "Mmm. " "Aaa. Kak! Luca Toni tuh! Gattuso! Pirlo! Aaa. Buffon Kak! " "Mmm. " "Kaakk. BaanguuUnn. " Pagi itu kami menonton di kamarku.

Verni mmg pendukung setia Italia, sedangkan aku pendukung baru Belanda. Sebenarnya aku pendukung setia timnas Inggris, tapi sayang sekali Inggris tidak lolos tahun ini, jadi aku beralih mendukung Belanda.

Aku dengar tahun ini pelatih membawa kejutan dlm timnas Oranye. "kaak! udh kick off! Kak. Kak. Bangguunn. ! Iih nyebelin! " Verni habis kesabaran, mengguncang-guncangku hingga terbangun. "Eeeh. Eh. Ehh. Iya iya iya sudah bangun ini! " kataku mengantuk.

Verni terus mengguncang-guncang badanku, tidak mempedulikan protesku. Tapi pemandangan yangg aku lihat sesudah itu benar-benar membuatku tidak mengantuk sama sekali. Verni rupanya udh duduk mengangkang di atas perutku. Baju tidurnya yangg putih-pink tampak tipis sekali dini hari itu.

Dadanya yangg besar menggelayut, dan samar-samar aku ngeliat 2 tonjolan kecil di masing-masing ujungnya. Verni nggak pake bra? "Bangun, " ulangnya, nyengir. "I. Iya. " entah kenapa aku merasa mukaku terbakar.

Rupanya Verni menyadarinya. Nyengirnya makin lebar. "Kenapa mukanya merah, Kak. " suaranya pelan, menggoda. Verni mendekatkan wajahnya ke arahku, hingga hanya berjarak beberapa senti saja. peler ku mulai menegang.

Aku menelan ludah, memberanikan diri. "Verni. " "Hm? " "Kamu. Kamu beneran liat kakak ngaceng waktu itu? " tanyaku gugup. Verni mengangguk, tersenyum. "Koq bisa gitu, Kak? Sampe setegang itu? " "Yah. Eh. " "Apa karna. Punyaku gede? " ia tidak menunggu jawabanku.

"Yah. " Aku mengangguk. "Iya. Jujur, iya. " "Hm. " muka Verni memerah. dia berkata pelan, " mmg segede itu ya? " "Well. Buat anak seumuran kamu sih gede banget, Verni. " kataku.

"Kamu tau banyaak cowok yangg nafsu banget sama punyamu? " "Iya. " katanya perlahan. "Kakak juga? " Aku tak dapat menjawab. Aku merasa bersalah. Tapi Verni tersenyum. "Gapapa, Kak. " ujarnya.

"Aku gapapa koq kalo kakak yangg nafsu. Hehee. " peler ku semakin tegak berdiri. "Be. Bener? " dia mengangguk. Verni menunduk, mengecup pipiku. toket nya menekan dadaku. Tepat saat itu tanpa sengaja pantatnya yangg empuk menyenggol peler ku yangg udah sangat tegang.

Verni melonjak kaget. "Kak. peler kakak tegang lagi. " bisiknya perlahan. dia berbalik, memunggungiku, menatap tonjolan besar di balik celana pendekku. "Be. Besar banget. " Saat itu 2 hal bergejolak di dlm diriku: nafsu dan logika.

Logikaku berkata aku ini kakaknya, dan se sexy apa pun Verni, ia adikku. Tapi nafsuku berkata, Verni itu perempuan yangg luar biasa sexy, yangg sedang duduk di atas perutku menghadapi peler ku yangg tegang.

Nafsu mmg selalu lebih kuat dari logika. Aku mendudukkan diri, sehingga Verni merosot ke pangkuanku. peler ku benar-benar terjepit di antara kedua pahanya yangg mulus sekarang. Aku merasakan peler ku berdenyut-denyut tegang.

"Kak. ? " bisik Verni. Aku mulai mencium belakang telinganya dngn lembut, kemudian turun ke arah rahang belakangnya. Aku mencium perlahan tapi pasti, sesekali menjulurkan lidahku untk menjilatnya lembut.

"Hhh. Ka. k. " Verni mendesah pelan. Perlahan, lehernya kulumat. Verni menelengkan kepalanya, sehingga dapat dngn cukup mudah aku mencium lehernya. Nafasnya semakin berat. "Mmh. Kak. Kaakk. g. Ga blh l. lohh. Mmhh. " desahnya perlahan, memperingatkanku.

Aku tak peduli. Verni mulai menggeliat keenakan, membuat peler ku tergesek pahanya. Bahkan walaupun di dlm celana, aku mulai merasakan nikmatnya seks. Tak tahan, aku menanyakan sesuatu padanya yangg mgkin sangat ingin ditanyakan oleh hampir setiap cowok di sekolah.

"Verni. boleh kakak pegang buah dada kamu? " Verni terdiam. Aku bisa merasakan pertentangan di dlm dirinya. Namun, sekali lagi, nafsu mengalahkan logika. Verni mengangguk lambat. Tak menunggu disuruh dua kali, perlahan-lahan aku menjangkaukan tanganku di bawah ketiaknya, dan dngn lembut aku meremas kedua toket nya yangg besar dan menggiurkan itu.

Sensasi empuk dan bulat penuh memenuhi tanganku yangg tak cukup besar untk meremas toket nya secara keseluruhan. Aku bisa merasakan putingnya. benar ia tidak memakai bra. "Aahh. Kaak. Mmmhh. Pe. lan. Pelan. " Verni mendesah nikmat.

Kedua tangannya mencengkeram erat seprei di ranjangku. Aku masih menjilati lehernya, kali ini cukup cepat. Kedua tanganku meremas-remas buah dada nya yangg empuk dan besar, yangg udah menjadi kencang karna terangsang.

Jari-jariku memainkan putingnya yangg udah tegang dan keras. "Koq sudah keras banget gini, Verni? " bisikku menggodanya. "Mmhh. Abisnya. Mmmhh. " "Kalo diginiin jadi tambah keras nggak? " Aku menjepit kedua putingnya di antara jari telunjuk dan jempolku, kemudian memelintirnya perlahan-lahan.

"Aaah. Aah. Kaak. ! " Saat itu aku merasakan peler ku tersiram sesuatu. Rupanya Verni udah sangat basah sehingga cairannya ikut membasahi peler ku. Aku meremas dadanya semakin kencang, sembari terus melumat leher dan belakang telinga Verni.

"Ooohh. Kakk. Kak. Kalo gini teruss. Aku. Akku. " "Kamu kenapaa? " Tangan kananku memainkan putingnya, sementara yangg kiri meremas lebih kuat. "Aku. Aaah. Mmmhh. Kaakk. Mmhh. " "Kenapa. " "Ga. gapapa. Ooohh. Ka. k. " Aku merasakan peler ku semakin tegang, nafas Verni pun semakin tak karuan.

Dia menggeliat-geliat keenakan, merangsang peler ku semakin hebat. "Verni, pegang peler kakak donk. " "Mmmh. Ga. Ga. Ga bo. leh ah, Kak. Hh. " "Boleehh. Ayo. Gapapa koq. " aku membujuknya.

Ragu-ragu, Verni melepaskan cengkeraman tangan kananya, dan meletakkan jari telunjuknya di kepala peler ku. Rasanya udah mau kuledakkan sajja peju ku saat itu. "Verni, digenggam aja. " "g. Ga ah kak. Gini aja. Mmhh. " dia memainkan jari telunjukknya di sekitar tonjolan di balik celanaku itu.

Itu sajja cukup, pikirku. Aku meremas dadanya yangg besar semakin liar, memainkan putingnya dan menjilati lehernya dngn ganas. Aku mulai menggosok-gosokkan peler ku ke selangkangannya yangg udah sangat basah.

"Aaah. Kaakk. Kak. Aku. Aku bisa. Aku bisa kelu. arr. Mmmh. " "Keluarin aja. Mmh. Gapapa. " Aku menggerakkan pahaku semakin kuat, rasanya aku sendiri udah mendekati klimaks. Aku mengeluarkan peler ku dari celanaku, membuatnya bergeletar liar menggesek selangkangan dan paha Verni.

Remasanku semakin kencang dan liar. Aku benar-benar udah mau keluar. "Kaak. Kaak. Aku. Aku keluar. aaAAH. aah! " Slsrlssh. Aku terkejut saat peler ku tersemprot cairan memek nya. Verni orgasme dan squirting, menyemprot peler ku dngn sangat kuat.

Tak butuh waktu lama untk ku untk mencapai giliranku. "Oooh. Verni! mhh! " Aku meledakkan peju ku satu, dua, empat, enam kali dlm jumlah besar, melumuri paha dan perutnya, bahkan ada yangg menyemprot hingga dada dan wajahnya yangg imut.

Verni terkulai ke ranjang. dia terlentang, dadanya yangg besar bergerak naik-turun mengatur nafas. Putingnya masih sangat tegang. Aku mengatur nafas. peler ku masih sangat tegang, mgkin karna hasrat yangg udah kupendam begittu lama untk merasakan empuknya dada Verni yangg besar.

Aku siap untk melangkah lebih jauh lagi. Tapi saat itu logika kembali ke pikiranku. Tidak, batinku. Ini udah cukup parah buat kakak-adik. Aku melirik Verni yangg tergeletak lemas, celananya basah kuyup.

Paha, perut, dadanya yangg besar dan wajahnya berlumuran cairan putih kental milik kakaknya. Aku tersenyum. "Thanks Verni. " bisikku. "Hhh. Hhh. " Verni masih terengah-engah. "I. Hhh. Iya. Sama-sama. " Aku terdiam, terpaku menatap layar tv.

"Kak. " "Ya? " " jangaan lagii ya. Dosa. " bisiknya lemah menegurku. "Oke. " Sore itu aku dan Verni sedang berada di dlm sebuah toko yangg menjual berbagai kartu ucapan di sebuah mall di dekat rumah kita.

Kami sedang memilih kartu ucapan untk salah seorang teman Verni yangg akan berulang tahun sebentar lagi. sudah sekitar setengah jam kami berputar-putar di antara rak-rak yangg memamerkan berbagai macam kartu ucapan yangg unik dan lucu, tapi kami masih belum menemukan pilihan yangg tepat.

Verni menarik sebuah kartu bergambar anjing kartun lucu yangg sedang mendengarkan iPod dari raknya. "Kalo yangg ini? " tanyanya kepadaku. "Hmm. boleh juga, sih. " jawabku. "Bisa diputer-puter, ya? " "Ya. Lucuu. " Aku tersenyum, menunduk, mencium ubun-ubun kepalanya.

Verni mendongak, menatapku sembari tersenyum. dia menyenderkan kepalanya ke pundakku. "Luv u, Kak. " "Luv u too, Verni. " smbil tetap meletakkan kepalanya di pundakku, dia kembali ngeliat -lihat kartu bergambar anjing yangg dia ambil tadi.

Seolah dia udh menentukan pilihannya. "yg ini saja ya, Kak? " "Ya. Itu bagus, " jawabku. Verni nyengir manis sekali, kemudian menggandeng tanganku ke arah kasir. sesudah membayar, kami keluar dari toko kartu itu, masih bergandengan tangan.

Kami benar-benar menikmati jalan-jalan kami petang hari itu; kami berjalan perlahan-lahan, sesekali aku memainkan rambutnya yangg pendek-kaku, kemudian menciumnya lembut. Verni membalas dngn tusukan nakal jari telunjuknya di pinggangku, bermaksud menggelitikku.

Kami saling berbagi candaan dan menggoda satu sama lain, berfoto berdua, pokoknya benar-benar menyenangkan. Yap. Seperti itu lah aku dan Verni, adik wanita ku satu-satunya, sekarang. Mesra sekali. Sejak kejadian malam itu (saat Belanda akhirnya melibas pasukan tua Italia 3-0—silakan baca episode 1) kami menjadi sangat dekat.

Kami mmg udah memiliki hubungan yangg baik sebelumnya—kita hampir tidak pernah bertengkar—dan kejadian itu sungguh-sungguh merekatkan kita, layaknya sepasang kekasih. Sejak kejadian malam itu, kami saling berjanji untk tidak mengulangi kegilaan seperti itu lagi.

Dan kami berhasil! kami menonton pertandingan-pertandingan Euro selanjutnya dngn seru, dan saling menghormati satu sama lain, menyadari status kami sebagai kakak-adik. Tapi, aku tidak bisa memungkiri bahwa sejak malam itu, Verni selalu ada dlm pikiranku.

Dan setiap malam, sebelum tidur, bayangannya lah yangg muncul di benakku. Aku tahu aku mesti menolak pikiran-pikiran itu, tapi hasilnya malah pikiran itu muncul semakin menggila setiap kali aku onani.

Setiap kali aku melakukannya, selalu muncul gambar-gambar kejadian malam itu; bagaimana aku meremas dadanya yangg empuk dan besar, bagaimana putingnya mengeras, bagaimana pahanya yangg mulus menjepit dan menggesek peler ku, erangan dan desahan nikmatnya, dan tubuhnya yangg tergeletak lemas berlumuran peju ku tak pernah bisa kuhapus dari pikiranku.

Bayangan itu sungguh efektif dlm merangsangku, begittu efektifnya hingga tak cukup hanya satu kali keluar saat onani untk memuaskan nafsuku. Aku tak tahu apa yangg Verni alami sesudah malam itu; apakah ia jg mengalami apa yangg aku alami atau tidak, aku tak tahu.

Yangg aku tahu, dia semakin sayang pada kakaknya, dan—jujur saja—ia tampak semakin sexy sejak malam itu. Seolah dadanya yangg besar bertambah besar dan menonjol menggiurkan, tetaapi wajahnya yangg imut bertambah imut dan polos.

Ooh. Paradoks seperti itu sungguh menggairahkan! "Kaak. Ntar bangunin aku ya kalo sudah mulai. " "Kamu pasang weker jg lah, Verni. " "Udaah. Tapi takutnya ga bangun. Ya? " Verni sedang menjulurkan badannya dari balik pintu tembusan antara kamarku dan kamarnya (kamar kami dihubungkan dngn kamar mandi), dan memintaku membangunkannya saat pertandingan bola berlangsung nanti.

Pertandingan ini merupakan pertandingan penentuan, dngn Belanda yangg udh lolos dari grup maut c, posisi kedua diperebutkan Romania, Italia, dan Prancis. Pemenang laga Italia melawan Prancis akan lolos apabila Belanda berhasil mengalahkan Romania pada laga terakhir.

Jika Romania menang, maka Romania-lah yangg lolos mendampingi Belanda, tak peduli hasil pertandingan Italia melawan Prancis. "Oke. " Aku mengangguk, setuju. Aku masih tetap menghadapi komputerku. Verni berjalan ke arahku, memelukku dari belakang, mengecup pipiku.

Cerita Sex Ngentot Adik Coba Anal Seks

"Thanks, Kak. " bisiknya lembut. Aku tersenyum, menoleh menatapnya, dan mencium hidungnya yangg mungil. Verni mengernyit, tapi nyengir sesudah nya. dia mencium pipiku lagii kemudian berbalik ke arah kamarnya.

Aku mendengar debam pintu ditutup di belakangku. Cepat-cepat aku mengganti screen komputerku. Aku sedang mengetik cerita tentang kejadian beberapa malam yangg lalu itu. Aku udah berjanji pada teman-temanku di untk membagikan cerita ini pada mereka.

Setengah jam berlalu, aku masuk bagian ketiga, bagian yangg paling seru. smbil mengetik, aku membayangkan apa yangg kulakukan malam itu dengannya. Kupejamkan mataku. Sama seperti sebelumnya, bayangan-bayangan itu muncul dlm benakku.

Jelas sekali. Aku membayangkan tanganku sedang meremas dadanya yangg empuk dan sangat besar, memainkan putingnya yangg semakin lama semakin mengeras dan menegang menggiurkan. Aku menyenderkan badanku ke kursi, merogohkan tangan ke dlm celanaku.

Peler ku udah mengeras. Pelan-pelan, aku mengocoknya. Oohh Verni buah dada kamu gede banget siih. peler ku semakin tegang dan membesar, kocokanku semakin keras. Empuuk. Putingnya keras bangett. Hornya, ya Verni? Tanganku bergerak semakin cepat.

Bayangan-bayangan semakin jelas. Oh my God paha kamu ngegesek peler kakak. Nafasku semakin cepat. "Aah. " Astaga, aku bahkan dapat mendengar suara desahannya dlm benakku. "Mmmh. Mmm. " Oh suaranya jelas sekali.

"Mmhh. Sssh. Aah. " Astagaa. Aku akan segera keluaar! Tapi saat itu aku sadar. Bayangan tidak bersuara! Aku membuka mataku, diam terpaku, mendengarkan. "Mmmhh. " Samar-samar, dari kamar sebelah, aku bisa mendengar suara desahan tertahan.

Verni kah? Apa yangg sedang dilakukannya? Mengendap-endap, aku berjingkat ke arah pintu kamar mandiku, yangg menghubungkan kamarku dngn kamarnya. Perlahan, sangat perlahan, aku membuka pintu kamar mandiku, berusaha tidak mengeluarkan suara sedikit pun.

"Aahh. Mmmh. " Desahannya semakin terdengar. Aku menjulurkan kepalaku ke dalam. btl saja; pintu kamar mandi yangg menuju ke kamarnya terbuka sedikit. mngkin Verni lupa menguncinya malam ini. Aku berjingkat perlahan ke arah pintu yangg terbuka sedikit itu, dan dari celah pintu itu aku mengintip ke dlm kamar adikku.

Lampu kamarnya udh dimatikan, hanya tersisa lampu meja yangg menyala oranye redup. Verni meringkuk di atas ranjangnya, tubuhnya yangg mungil miring ke kanan, menggeliat-geliat pelan. Tangan kanannya merogoh bagian depan celana pendeknya, menjangkau memek dngn tangannya, sementara tangan kirinya meremas salah satu dadanya yangg besar menggiurkan itu.

Verni sedang masturbasi! "Aah. Aaah. " desahnya nikmat. Aku terpana. Tidak pernah sebelumnya aku berpikir bahwa adikku yangg polos dan imut-imut ini jg memiliki pikiran yangg erotis hingga bisa masturbasi.

Terdiam sejenak, aku sadar bahwa akulah yangg memasukkan pikiran-pikiran seperti itu dlm benaknya. Jika kejadian malam itu tak bisa hilang diingatanku yangg udh sering ngentot apalagi hanya petting seperti itu tentunya lebih tidak bisa hilang lagii dlm pikiran Verni yangg masih polos dan baru pertama kali melakukannya.

Tersenyum, aku membalikkan badanku, bermaksud meninggalkan Verni dlm fantasinya. Tapi, baru setengah langkahku terangkat, aku mendengar sesuatu yangg membuatku tertegun. "Mmmhh. Kak. Kaak. " Jantungku serasa berhenti. Astaga! Rupanya aku yangg dibayangkannya! Penasaran, aku berbalik, hendak mengintip ke arah kamarnya lagi, ngeliat apa yangg terjadi.

Namun, karna gelap, aku menyenggol tempat sampah kamar mandi yangg terbuat dari besi, sehingga jatuh berkelontangan. Tanpa ngeliat pun, aku tahu Verni tertegun di ranjangnya. Hening mencekikku. Aku dilanda kebingungan, berbalik ke kamarku sepelan mungkin, atau membereskan dulu tong sampah itu baru berbalik.

Sebelum aku mengambil keputusan, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka, lampu menyala. Verni berdiri di ambang pintu. Tubuhnya berkeringat, wajahnya yangg imut diliputi kecemasan dan terkejut. "Eh. Kak? Nga. Ngapain? " Verni bertanya gugup.

"Hah? Oh? Nggak koq nggak ngapa-ngapain. Eh. Belum tidur? " aku tak kalah gugupnya. Terdiam. kami membatu di tempat masing-masing, menyadari kejanggalan yangg terjadi. Verni memberanikan diri bertanya. "Kakak. Tadi liat aku? " "Ah? Ah. " Aku gelagapan, tak tahu mesti menjawab apa.

"Eh, ya. Lebih ke arah denger sih. " Terdiam lagi. "Tadi pintunya agak kebuka sedikit. " lanjutku sembari mengangguk ke arah pintu yangg menuju kamarnya. "Oh, ya. " Terdiam lagi.

Suasana ini tidak menyenangkan. Wajah Verni merah padam. "Mm. Kakak. Denger semua? " suara Verni sangat pelan hampir berbisik. Aku terdiam, tak mampu menjawab. "Yah. Ya. Kamu bayangin. Kakak? " tanyaku.

Langsung ke sasaran. "Hah? Eh. " wajahnya tambah merah padam. "Yah. I. Ya gitu deh. " "Oh ya? " jawabku canggung. Tak tahu melanjutkan ke mana. ". yangg malem itu. " bisik Verni.

Aku terdiam. sudah kuduga dia akan memikirkan apa yangg kami buat malam itu. Perasaan bersalah terasa menyakitkan menusuk hatiku. kami terdiam, terpaku di tempat masing-masing, bingung mesti melakukan apa selanjutnya.

"Eh. Yah. Yasudah. Kakak tidur dulu? " kataku gugup. "Hah? Oh. Ya. Oke. Nanti bangunin aku ya. " kata Verni, senyum gugup mengembang di bibirnya yangg mungil. Verni membantuku membereskan sampah yangg sedikit berserakan.

Aku tersenyum, mengecup keningnya, kemudian berbalik, hendak kembali ke kamarku, berusaha melupakan apa yangg kulihat barusan. Saat itulah Verni memelukku dari belakang. "Kak. " bisiknya. "Ya? " jawabku, berusaha setenang mungkin.

"Kakak. jg mikirin yangg malem itu? " Verni bertanya takut-takut. Hening. "Kak? " "Ya. Iya. " Hening lagi. "yg pas apa yangg kakak bayangin? " "Heh? Koq nanya kayak gitu? " Aku mendengarnya tertawa kecil.

Verni semakin mempererat pelukannya. Dadanya yangg empuk menekan punggungku, enak sekali. Aku merasa celana pendekku mulai menyempit. "Kamu bener-bener kepikiran, ya? " tanyaku. Aku merasakan anggukan kecil kepalanya. "Pengen. Lagi. " katanya pelan.

"Heh! Katanya waktu itu jngn lagi. Dosa. " jawabku. Aku agak geli. "Iya. Tapi. " Aku tersenyum, membalikkan badanku. Verni menunduk, tampak lesu. "Hei. " sapaku lembut. Kuangkat dagunya perlahan.

"Ga baek tau kami gitu. Kan kakak-adek. Waktu itu sudah janji jg kan kami ga mau gitu lagi. Ya kan? " Apa yangg kukatakan ini sungguh bertentangan 180 derajat dngn apa yangg kurasakan.

Peler ku yangg menegang serasa berdenyut-denyut di balik celana pendekku. Ingin rasanya aku langsung melumat bibirnya yangg mungil itu dan menghujamkan peler ku ke dlm tubuhnya. Tapi, bagaimana pun, aku kakaknya.

Aku tahu itu tidak blh. "Iya. Iya sih. " jawabnya, lembut. "Sorry. " "Hm? Koq sory? " "Abis. Kan sudah janji waktu itu. " Tidak blh , ia adikku.

Aku terus memberitahu diriku sendiri. Tapi saat itu aku mataku terantuk pada dadanya yangg besar menantang. peler ku semakin mengeras. Aku menggelengkan kepala. "Kakak nggak pengen lagi? " tanyanya, polos.

Nggak. "Yah. " Bilang nggak pengen. "Eh. " Stop. "Ya. Yah. Jujur sih. Eh. " ia adik lu! ". Ya pengen sih. " Bagaimana pun aku kalah lagi. Verni mendongak, menatapku.

Saat itu wajahnya tampak imut sekali. "krn buah dada ku? " tanya Verni. ". Iya. Sory. " jawabku lemah. "Gapapa. " jawabnya. Mukanya merah padam. "Abis. Gede banget. " "Segede itu kah? " tanyanya perlahan, kedua tangan mungilnya memegang dadanya, meremasnya, seolah tak percaya bahwa dadanya mmg sangat besar.

Aku tak tahan lagi. Kupeluk tubuh mungil Verni. Dadanya yangg besar menekan dadaku. Aku mencium bibirnya yangg mungil, lembut. Verni terkejut. Sesaat seolah dia akan meronta melepaskan diri dari pelukanku, tetapi detik berikutnya dia udh membalas ciumanku.

Ciuman kami bertambah panas. Lidahku perlahan masuk ke dlm mulutnya, memainkan lidahnya. Verni cepat belajar rupanya, segera membelit lidahku dngn lidahnya yangg mungil. Decak lidah kami terdengar menggiurkan di dlm heningnya malam itu.

Tanganku merogoh pantatnya, meremasnya. Baru kali ini aku menyadari pantat Verni jg montok dan tebal. Verni melepaskan ciuman, mengambil nafas. Benang ludah tipis menghubungkan mulut kita. Sexy sekali. "Di kamar saja yuk? " ajaknya.

Aku mengangguk. Kugendong Verni kembali ke kamarnya, kurebahkan tubuh mungilnya di atas ranjangnya. Perlahan, aku merebahkan diri di atas tubuh Verni, kembali melumat mulutnya dngn penuh gairah. Tapi saat itu Verni terbatuk.

"Kenapa? " tanyaku. "Uhuek. Kakak berat! " katanya terbatuk. dia tertawa terbahak-bahak. Tawanya yangg renyah justru menambah gairahku. kami berciuman lagi. Nafas kami semakin memburu. Aku menurunkan ciumanku ke rahangnya, kemudian lehernya, perlahan-lahan.

Verni mencengkeram rambutku. "Mmh. Jilatin leherku, Kak. " Aku menurutinya. Aku memutar-mutar lidahku di lehernya, kucium perlahan, terus berulang-ulang. Verni mengejang. "Enak? " tanyaku. "Hmmhh. Iya. lagi kak. " Verni mendesah.

Kali ini, sembari menjilat dan merangsang lehernya terus-menerus, tanganku perlahan meremas dadanya yangg seempuk bantal. Rupanya malam ini Verni memakai bh, sehingga tanganku tidak langsung menyentuh putingnya. Tapi aku merasakan puting Verni udh mengeras seperti malam itu.

"Buka saja kaosnya. " pintanya. Aku mengangguk. Perlahan, aku mengangkat kaos piyama warna pink itu. Verni mengangkat kedua lengannya agar bisa kubuka sepenuhnya. Aku tertegun ngeliat bh warna putih berenda yangg dikenakannya.

Baru kali ini aku ngeliat tubuh adikku seperti ini. Dadanya yangg besar dan bulat tampak sangat kesulitan ditahan oleh bh itu. Aku mulai mencium dan menjilat dada Verni, sementara tanganku masih tak puas merasakan empuk dan kencangnya.

" mmg bener-bener gede, Verni. " bisikku. Verni hanya tersenyum, menggeliat nikmat. Aku meremas dadanya lagi, ragu-ragu apakah sebaiknya kubuka Bhnya atau tidak. Seolah dapat membaca pikiranku, Verni bertanya.

"Mau liat? " tanyanya, menggoda. Tak menunggu disuruh dua kali, kutarik bh itu ke atas. Dada Verni yangg besar berguncang menggiurkan saat terbebas dari cengkeraman BHnya. Sungguh besar, bulat dan putih mulus sekali, dngn puting yangg masih belum pernah tersentuh tangan pria berwarna coklat muda kemerahan.

Benar dugaanku, putingnya udh ereksi setegang-tegangnya. Dada Verni benar-benar sempurna. "Oh my God. " bisikku kagum. "The best. " "Hehehe. Berisik. Ayo cepet. " katanya. Aku membenamkan wajahku di antara kedua buah dada nya.

Empuk, lembut sekali. Sensasi kenyalnya dada Verni membuatku sungguh terangsang. Dada Verni sungguh penuh membungkus wajahku. Aku bergeser. Jemariku memainkan putingnya yangg udh tegak berdiri. "Aaahh. Kakk. MMh. " Verni mendesah nikmat.

Kujilat dan kusedot puting kanannya, sementara tangan kananku meremas dada kirinya. Kemudian berganti, puting kirinya kusedot dan kujilat perlahan, sementara puting kanannya kumainkan dngn jemariku; kucubit dan kuputar. "Aaahh. Aaahh. Ka. k. Pelan. Pelaan. Mmmh! " Aku menyadari Verni lebih terangsang saat puting kirinya kujilat.

Rupanya Verni lebih sensitif di puting kiri. "Kamu lebih suka di sini ya? " godaku sembari menggigit perlahan puting kirinya. "ahh. Aah! iya! Ooh. Mmmh. jangaan digigiitt. Mm! " Verni mendesah keenakan.

Tubuhnya menggeliat-geliat. Tangannya mencengkeram seprei. smbil melepas celana pendeknya, aku semakin liar memainkan dadanya yangg besar menggiurkan. Kuputar-putar lidahku di kedua putingnya bergantian. Verni tak tahan. "ooh. Kaakk. Ka. Kalo gitu terus. Aku. Aaahh. Mmhh. Kk. " "Mau keluar? " tanyaku sembari terus meremas dan menjilat dadanya.

Verni mengangguk panik. Aku nyengir nakal. Puting kirinya kujilat sangat perlahan, sementara tangan kananku merogoh selangkangannya. sudah basah kuyup. "AahHH. ! Kak! " Sslrrsh. Verni mengejang, mengangkat pinggulnya, menyemprotkan cairannya banyak-banyak, membasahi tanganku.

Dia terkulai lemas. "Kenapa kamu? Belon diapa-apain sudah squirting gitu? " godaku. "Hhh. Hh. Enak saja blon diapa. apain. Hh. " jawabnya, terengah-engah. Aku tertawa pelan. "Masih kuat? " dia mengangguk, tersenyum.

"Kakak nakal. " bisiknya. Aku nyengir dan kembali membenamkan kepalaku kedalam bekapan dadanya. Benar-benar enak sekali. "Mmm. Vnn. Nnii subber bnged. (Mmm. Verni ini super banget) " kataku dlm bekapan dadanya.


Cerita seks Ngentot Adik Coba Anal Seks
  • Verni tertawa geli. Kedua tangannya meremas dadanya, menekankannya ke arah wajahku, sehingga semakin membekap wajahku. Saat itu ide gila melintas di benakku. "Verni, kamu tau titf*ck? " tanyaku. "Apa tuh? " "Itu. Gini. " Aku berdiri, membuka celanaku.
  • Peler ku yangg tegak berdiri mengacung ke arahnya. Verni melotot memandang peler ku. "Mau diapain, Kak? " tanya Verni. "Kayak tadi. " dengan lembut aku berlutut, mengangkang melewati perutnya.
  • Kuletakkan peler ku di antara dadanya yangg lembut itu. Verni mengerti. "Ooohh. Iya iya! " katanya, mengangguk-angguk. Verni memegang kedua dadanya yangg besar, kemudian menjepit peler ku di antaranya.
  • Luar biasa! "Aaahh! Verni. Ini enak banget! " "Enak? " tanyanya. Tangan Verni meremas-remas, memijat-mijat dadanya. Sensasi empuk dan kencang membungkus peler ku. Dadanya sungguh besar hingga yangg tampak hanya kepala peler ku yangg berwarna merah.
  • Rasanya berdenyut-denyut di antara jepitan lembut dadanya. "Verni, dikocok deh. Mmmh. Pelan-pelan, " pintaku. "Oke. " Verni menggerakkan dadanya naik turun bersama-sama, perlahan. Aku tak dapat melukiskan kenikmatannya dngn kata-kata.
  • Kemudian dia menggerakkan dadanya bergantian, kiri-kanan-kiri-kanan. Benar-benar luar biasa! "Ooohh. Mmh. Verni. smbil dijilat. Kepalanya. " Verni menunduk, menjilat kepala peler ku. Aku rasa batasku udah semakin dekat. Seolah mengerti pikiranku, Verni berkata.
  • "Keluarin aja, Kak. Semprot yangg banyak! " bisiknya. "Okee. Mmmhh. Ben. Bentar laggii. Aaah. " Verni semakin cepat menggerakkan dadanya naik-turun, dia jg mengencangkan jepitannya, tapi jilatannya tetap pelan dan lembut.
  • Aku udah tak tahan lagi! "Verni. Kakak. MmhH! " Crot. Crrot. Crot. peler ku meledakkan peju kuat-kuat berkali-kali ke wajah imut Verni. Verni memejamkan mata dan menutup mulut rapat-rapat.
  • Aku terus menyemprot hingga hampir seluruh wajah dan dadanya yangg besar berlumuran cairan putih kental itu. Verni membuka mata, menjilat peju sekitar mulutnya. Cairan putih menetes dari daun telinga, jg poni rambutnya.
  • Wajah polosnya benar-benar belepotan sekarang. Aku mengangkat peler ku dari dadanya, masih tegang, sama seperti waktu itu. Rupanya mmg tidak cukup hanya sekali untk memuaskan nafsuku. "Oke. Sekarang giliran kamu lagi. " kataku.
Aku menunduk ke arah selangkangannya. Kubuka tungkai Verni hingga mengangkang sempurna. Celana dalamnya basah kuyup. Aku menjulurkan jari telunjukku untk menyentuh memek nya. Perlahan, kugerakkan naik-turun telunjukku di bibir memek nya.

"Mmm. Mmh. Kaak. " desahnya pelan. Aku menusukkan telunjukku lembut lebih kedalam. Verni menjengit. "Lagi, Kak. " "Tunggu. " Perlahan, kubuka celana dalamnya yangg berwarna putih. memek Verni masih belum berbulu, hanya rambut-rambut sangat tipis yangg tumbuh sedikit di sekitar bibir memek nya.

Bentuknya pun indah, tembem. Klitoris Verni udah menonjol keluar. Cairan bening mengalir dari dlm memek nya. "Wow. Kenapa badanmu sempurna gini sih? " bisikku menggodanya. "Apaan sih kakak. " kata Verni.

Tanpa berlama-lama, aku langsung mencium memek nya. Verni mengejang, menggeliat setiap kali aku menyentuh klitorisnya dngn bibirku. Harum segar sekali baunya. "Aahh. Kaakk. AaHH. Aa. " desah Verni. Aku menjulurkan lidah, kujilat bibir memek nya yangg tembem.

Verni menggeliat semakin kuat, mencengkeram kepalaku. Aku meremas pantatnya perlahan-lahan sembari terus menjilati memek nya. "Kaakk. Kakakk. Oohh. Mmmh. Yess. " Verni mendesah. Nafasnya berat, tak beraturan. Kujulurkan lidahku lebih dalam, kali ini menjangkau bagian dlm memek nya.

Verni mendesah dan mendesis tak karuan, pinggulnya menegang. Aku melirik ke atas, tangan kanannya sedang meremas dadanya yangg besar, memainkan puting kirinya yangg sensitif. Kugigit lembut klitoris adikku. "m! Kak! Keluar! Aah. ahh! " Sebelum aku sadar, Verni udh menyemprotkan cairannya ke wajahku.

Semprotannya kencang sekali. Untung sajja aku sempat memejamkan mata dan menahan nafas. Belum sempat aku mengambil nafas, Verni udh menyemprotkan orgasmenya yangg kedua. Lebih banyaak kali ini. "Oohh. Oohh. Mmh. Hhh. Hh. " Verni terengah-engah tak karuan.

Ngentot Adik Coba Anal Seks sedarah cerita bokep indo, kisah hot dewasa Ngentot Adik Coba Anal Seks, cerita porno Ngentot Adik Coba Anal Seks
Ngentot Adik Coba Anal Seks

Dadanya bergerak naik-turun, mengatur nafas. Aku membenamkan wajahku di dlm selimut, berusaha mengeringkannya. Verni tertawa geli ngeliat kakaknya basah kuyup. "Apa kamu ketawa-ketawa. " ujarku. Geli jg sih. "Hahahaha. mmg aku nyemprotnya sampe segitunya? Hahaha. " katanya geli.

"Hehe. Abis kamu tiba-tiba gitu. Dua kali, lagi. " kataku, akhirnya ikut tertawa. "Kan aku sudah bilang tadi. " jawabnya. Verni terkulai lemah di ranjang, tapi matanya berbinar senang.

"Hehehe. Nakal kamu. " bisikku. Aku merebahkan diri di atas adikku, kemudian melumat bibirnya yangg mungil itu dngn sayang. peler ku masih tegang sekali, agak menyentuh memek nya. Verni berjengit, melepaskan ciuman.

"Kak. Masih tegang, ya? " tanyanya polos. Aku mengangguk. "Kamu sexy banget sih. Jadi tegang terus. " aku berbisik menggodanya. "Mau disedot? " tawar Verni sembari tersenyum. "Heh? mmg kamu bisa? " tanyaku, agak terkejut.

"Bisa. Waktu itu kan pernah ngintip Kakak lagii disedot Kak Grace. " jawabnya, meyakinkanku. Grace itu pacarku. ". Eh. Apa namanya. Oral? " "Ya. Oral, " kataku membenarkannya. "Nakal ya kamu ngintip-ngintip orang! " Verni nyengir jahil.

Dia mendorongku. Aku berguling ke sisinya, terlentang. Verni bangkit dan membungkuk di atas kakiku, kepalanya menghadap peler ku yangg tegak berdiri. "Mulai. Eh. Mulai dari sini kan ya? " tanyanya ragu-ragu sembari menjulurkan tangannya yangg mungil untk menggenggam peler ku.

Aku mengangguk. Perlahan, Verni mengocok peler ku. Aku tahu dia masih takut-takut. "Mmhh. Enak gitu Verni. NnhHh. Teruss. Betul. Mhh. " desahku. Lama-kelamaan Verni semakin yakin dan terbiasa dngn peler ku.

Kocokkannya semakin mantap. Tak lama kemudian, dia mendekatkan bibirnya ke kepala peler ku, menjulurkan lidahnya untk menjilat. Perlahan-lahan, dia menjilati kepala peler ku. Enak sekali. "Aahh. Ji. Jilat batangnya juga, Sayang. Mmhh. " Verni menurut.

Dia menjilati batang peler ku dngn bers mmg at. Lama-kelamaan jilatannya semakin berani. Verni memutar-mutar lidahnya di sepanjang peler ku. "Slrpp. Mmahh. Kaka. Enaa. k. Sllrpp? " tanyanya sembari terus menjilat.

Aku mengangguk, memejamkan mata, berusaha menahan agar tidak orgasme terlalu cepat. Tiba-tiba, Verni berhenti menjilatiku. dia menegakkan tubuhnya, seolah bersiap-siap. "Abis itu. Gini. Ya. ? " dia membungkuk, memasukkan peler ku ke dlm mulutnya yangg mungil.

Verni mesti membuka mulutnya lebar-lebar agar peler ku bisa masuk semua. Rasanya luar biasa! "Mmhh. Ccpp. Bunya. Kak. Gdee. Mmm. Cp. b. Nget. Puah. Sampe susah nyedotnya. " katanya.

Aku tertawa. dia kembali menyedot peler ku, perlahan-lahan. Kepalanya bergerak naik-turun. Di dalam, lidahnya memainkan bagian bawah batang peler ku. dia melakukannya benar-benar seperti udah profesional. "Kamu. Mmmhh. Ngintipnya. Sampe kayak gimana. Mmmh. Waktu itu? " tanyaku.

Tekniknya mmg mirip dngn Grace. "Dari. Mmmh. Slrpp. Aw. al. Cp. Mm. Sp. Samp. e. Abiss. Cpp. " jawabnya terpatah-patah. Pantas saja. Verni semakin cepat menggerakkan kepalanya naik-turun. Rongga mulutnya yangg kecil menjepit peler ku pas sekali, dan lidahnya yangg menggeliat-geliat di bagian bawah peler ku sungguh membuatku tak berdaya.

Aku tak yakin apakah aku mampu bertahan lebih lama lagi. "Verni. Oohh. Kaka. k. Mmh. Aaahh. Mau keluar nih. Aahh. Kayaknya. " Verni tidak memedulikanku. dia menggerakkan kepalanya semakin cepat, kemudian menyedot peler ku kuat-kuat sebelum melumatnya hingga ke pangkal.

Aku benar-benar tak tahan. "Verni. Nnn. MMmh. Uu. Udah. Dikasi. Tau. Lo. oh! ahh! " sebelum kalimatku selesai, Verni menyedot kuat sekali lagi, dan aku meledakkan peju ku berkali-kali ke dlm mulutnya.

"Aah. Aaa. ahh! Mmmhh. OoH! " desahku setiap kali peler ku menembakkan cairan ke dlm mulut adikku. Verni terus mempertahankan peler ku di dlm mulutnya. Cairan putih kental mengalir keluar dari balik bibirnya.

Rongga mulutnya yangg mungil tak mampu menahan peju kakaknya yangg menyemprot berkali-kali banyak-banyak. Aku menghela nafas panjang saat akhirnya selesai. Verni merangkak, merebahkan diri di sisiku, mencium pipiku. Aku menoleh dan melumat bibirnya yangg belepotan peju ku.

Kami saling membelit lidah. Tak memikirkan betapa hubungan ini sebenarnya terlarang. "Kak. " katanya lembut. "Ya? " "Thanks. " "Hahaha sekarang kamu yangg bilang thanks. " "Iya donk. Kakak enak banget. " "Kamu juga. " kami terdiam.

Aku memejamkan mata. Lelah sekali rasanya. Verni memeluk lenganku. Dadanya yangg montok menekan, tapi kali ini aku udah terlalu lelah. "Kak. " "Hmm? " "Enak mana. Sama Kak Grace? " tanya Verni.

"Oralnya? " "He-eh. " "Enak kamu. " "Bohong. ! " ujarnya. Aku tertawa. "Hahaha. Iya deehh. Enakan Grace. " kataku. " jangaan dibandingin donk. ia bibirnya sexy tebel gitu. " "Hehehe. " Verni terkekeh.

Terdiam lagi. Apa yangg bakal Grace bilang kalo ia tau pacarnya punya hubungan intim dngn adik kandung sendiri? "Kak. " "Hm? " "Lain kali. " ". jangaan lagi? " aku memotong ucapannya.

"Nggak. " katanya, tersipu. ". Lain kali lagii yuk. " Aku tertawa. Adikku parah sekali rupanya. "Besok jalan yuk. " ajak Verni. "Besok Kakak ada janji sama Cherry, " kataku.

Cherry ini sahabatku sejak sd. ". Mau anal ya? " bisiknya jahil. "Heehh? Koq gitu. ? " "Kan Kakak sering anal sama dia. Aku tau aja. " ". apaa? " Aku menggelengkan kepala.

Susah sekali berkonsentrasi hari ini, apalagi sesudah terkena tendangan bola futsal yangg sangat keras tepat di peler ku. Urgh! Aku menggelengkan kepala lagi. Sebenarnya udah sejak awal pertandingan aku sulit berkonsentrasi.

Pikiranku terpaku pada adikku Verni. Terutama apa yangg dilakukannya tadi pagi. Tadi pagi, Verni mesti berangkat ke sekolah karna dia menjadi ketua panitia mos (Masa Orientasi Siswa) di sekolah.

Hari ini para siswa-siswi smp baru udah mesti masuk ke sekolah untk menjalani masa orientasi, dan Verni mesti menyiapkan segala sesuatunya dngn baik. Sebelum pergi, pagi-pagi sekali, Verni membangunkanku dngn ciuman nakal perlahan di leherku.

Saat aku terbangun, aku ngeliat adik kecilku yangg imut itu tersenyum manis, dngn kancing kemeja seragam sekolah yangg tidak dikancingkan dan bra merah muda berenda yangg diangkat. Dadanya yangg besar menggelayut menggiurkan di hadapanku.

Sekejap kemudian Verni udah menjepit peler ku dngn kedua dadanya yangg empuk, memijat dan meremasnya perlahan. Aku yangg terkejut hanya bisa menikmati sensasi luar biasanya. Tak butuh waktu lama bagiku untk meledakkan peju kentalku berkali-kali melumuri wajahnya yangg imut.

Sesudah membersihkan wajahnya, Verni tersenyum puas, mengecup bibirku, kemudian pergi ke sekolah. Bayangan akan apa yangg terjadi pagi itu terus terngiang di kepalaku, bahkan saat pertandingan futsal sedang panas-panasnya sore itu.

Mngkin itu yangg membuatku dapat kebobolan hingga tujuh gol. Gila. Lagipula. Sakit sekali. Bagaimana jika aku tidak dapat tegang lagii untk seterusnya? Apa kata Verni? Grace? Cherry? Langkahku gontai melintasi halaman rumah.

Aku membuka pintu depan rumah. Sepi, kedua orang tuaku sedang menghadiri acara keluarga besarku di Semarang selama seminggu. Aku membanting sepatu futsalku di tempat sepatu, mendaki tangga dngn lemas menuju kamarku, membanting tas dan sarung tangan kiperku, melepas semua pakaianku, kemudian melangkah ke kamar mandi.

Aku ingin cepat-cepat mandi air panas. Tanpa memperhatikan apa-apa, aku membuka pintu kamar mandi. Aku tertegun. Verni sedang mandi dngn santainya. keliatan nya dia tak sadar aku membuka pintu kamar mandi.

Verni bermain-main dngn air dari shower, menggosok lengan, leher, pantat, dan tentu sajja dadanya yangg besar menggiurkan. "Verni? " Verni melonjak kaget. dia berbalik, ngeliat kakaknya yangg jg telanjang bulat berdiri di hadapannya.

"Eh. Kak? Koq ga ngetok dulu? " tanyanya gugup. "Hah? Oh. Oh iya. Sory tadi kakak pikir ga ada orang. " "Oh. Hahaha ya namanya kan kamar mandi bareng. Ketok dulu lah. " jawabnya santai.

"Gimana futsalnya? " "Kalah. 6-5. Jadi runner up. " jawabku lemas. "Udah gitu punya kakak ketendang bola kenceng banget lagi. Jarak dekat. " "Hah? ! Oh ya? " ujar Verni terkejut.

Dia memperhatikan peler ku. "Tapi. Koq. Kayaknya gapapa ya. " lanjutnya. Aku menangkap nada geli dlm suara manisnya. "Ya iyalah gapapa. Dasar. " mmg saat itu peler ku udah kembali tegang setegang-tegangnya.

Segala pikiran tentang apakah aku dapat tegang lagii sirna udah saat aku meihat tubuh Verni yangg basah kuyup sedang mandi. "Eh. Mm. Jadi. " kata Verni. "Hah? Oh. " aku tersenyum.

"Mau mandi bareng? " Verni nyengir. "Dasar nakal. " bisiknya. Tapi dia membukakan jg pintu kaca pembatas ruang shower. Aku masuk, dan seketika itu jg hangatnya air membasahi tubuhku.

Damai dan tenang sekali rasanya. Verni merapatkan dirinya ke arahku. Dadanya yangg besar menekan tubuhku, kenyal dan empuk sekali rasanya. Verni mengusap perlahan punggungku. "Mau aku sabunin, Kak? " tawarnya.

Aku mengangguk. dia mengambil botol sabun cair, menuangnya ke atas telapak tangannya, kemudian mengusapnya perlahan di punggungku. Aku menunduk, memandang adikku. Verni mendongak, tersenyum. kami saling bertatapan beberapa lama.

Perlahan, Verni mendekatkan bibirnya ke arah bibirku. Aku menyambutnya lembut. Sangat perlahan, kami berciuman. Lidah Verni menusuk ke dlm mulutku dan membelit lidahku. Suara decak ciuman kami semakin lama semakin nyaring.

Ciuman kami semakin panas, tapi masih dlm gerakan yangg sangat perlahan. Aku menjulurkan kedua tanganku, meremas pantatnya yangg kencang dan bulat. dlm benakku aku sungguh ingin meng-anal adikku ini suatu hari nanti.

Verni menekankan dadanya semakin kencang ke arah tubuhku. Aku dapat merasakan putingnya yangg mengeras, seksi sekali. "Gimana mos? " kataku saat ciuman kami terlepas. Aku bertanya sembari meremas-remas dadanya yangg besar.

Empuk dan kenyal sekali. Rasanya sungguh berbeda dngn dada perempuan - perempuan lain. "Seru. Tapi anaknya pada susah diatur. Bandel-bandel. " katanya sembari memanyunkan bibir. Aku tertawa. "Haha. Bandel mana sama kamu? Hm? " "Aah Kakak. " bisiknya manja.

Tangan mungilnya udah berpindah mengusap bagian depan tubuhku sekarang. Aku memainkan putingnya yangg udh sangat keras. Kujilati putting kirinya yangg sensitif, sementara tangan kiriku meremas dada kanannya dngn nafsu.

Verni memejamkan menikmati. Perlahan, tangannya bergerak ke arah peler ku yangg sangat tegang. Verni jongkok, menghadapi peler ku sembari mengusapnya perlahan dngn sabun. "Aduh kacian. Kamu tadi kena bola ya? " Verni berbicara pada peler ku, seolah berbicara pada anak kecil yangg lucu.

Dia mengusap-usapnya, mengocoknya perlahan. Enak sekali. "Mmhh. Verni. Tuh kan. Bandel kamu. " desahku. Verni nyengir. dia membiarkan air dari shower membilas sabun dari peler ku hingga bersih. dia menjilat-jilat peler ku dngn perlahan, dari pangkal hingga ujungnya.

"Aku sedot ya, Kak? Biar ilang sakitnya. " katanya sembari mendongak memandangku. Aku mengangguk. Verni segera memasukkan peler ku ke dlm mulutnya. Perlahan-lahan, dia menggerakkan kepalanya maju, memasukkan semakin banyaak bagian dari peler ku kedalam mulutnya.

"Verni. Mmhh. Verni ati-ati keselek. " Verni terus memajukan kepalanya. Aku ngeliat semakin lama dia semakin kesulitan. Saat ¾ bagian peler ku udah masuk, aku merasa kepala peler ku udh menyentuh leher dalamnya.

Verni memainkan lidahnya di bagian bawah peler ku. Enak sekali. "Aaahh. Verni. Verni. Terus gitu. Mmmh. " Verni menyedot semakin kencang. Gerakan kepalanya pun semakin cepat maju mundur. Lidahnya terus bergerak berputar-putar di bagian bawah peler ku, menjilat pangkalnya.

Aku tak tahan lagi. "ohh. Verni. Ka. Kak mau. Keluar. MmHH! " Aku meledakkan peju ku ke dlm mulutnya. Mulutnya yangg mungil tak sanggup menahan semprotan yangg begittu kencang.

Verni melepaskan sedotannya, membuat semburanku beralih melumuri wajahnya dngn cairan putih kental. "Ooh. Verni. Verni. " desahku keenakan. Aku bersandar lemas ke tembok kamar mandi. Verni membiarkan semburan air dari shower membersihkan mukanya.

Enak sekali rasanya. peler ku masih tegang, seperti 2 kali sebelumnya, tak cukup hanya sekali aku merasakan kenikmatan adik kecilku ini. Verni memelukku. Dadanya yangg empuk menekan tubuhku. Gejolak antara akal sehat dan nafsu kembali berkecambuk di benakku.

Tapi mmg nafsu selalu menang. Aku udah melangkah sejauh ini. Aku rasa udah terlambat untk berputar kembali. Aku menunduk, menatap Verni yangg balas menatapku. Dari sorot matanya, aku tahu bahwa nafsu jg udh menguasainya.

Tanpa sepatah kata pun, aku membalikkan badannya ke arah dinding kamar mandi. Seolah tahu apa yangg hendak kulakukan, Verni meletakkan kedua tangannya pada tembok untk bertumpu, berjinjit, mengangkat pinggulnya, menyerahkan sepenuhnya vaginyanya untk ku.

Aku mengarahkan peler ku, meletakkannya di belahan pantatnya yangg montok. Sesaat, aku ingin mengawali semuanya dngn meng-anal Verni, tapi sesaat kemudian aku udh menggeser perlahan kepala peler ku ke arah bibir memek nya yangg bersih tak berambut.

Kumain-mainkan bibir memek nya dngn kepala peler ku; kuusap perlahan, lembut. "Mmh. Kak. Masukin saja langsung. " pintanya. Aku setuju. Kumasukkan perlahan kepala peler ku. Verni berjengit pelan. Aku merasakan ketegangan mengaliri tubuh adikku.

"Kamu yakin, Verni? " tanyaku. Sekali lagi, logika berteriak-teriak di pikiranku. ia ini adikmu! sadar! Aku yakin suara yangg sama jg berteriak, menggedor-gedor akal sehat Verni. Tapi saat itu kulihat anggukan perlahan tapi mantap dari adik kecilku ini.

Keraguanku sirna. Perlahan, tak ingin menyakiti, aku menusukkan peler ku ke dlm memek nya. Verni mengejang. Aku memasukkan semakin dalam, udah masuk ¼ bagian sekarang. Sempit sekali. Agak sulit.

"Mmmhh. Aaahh. Aaa. Aaah Kak. s. " Verni mendesah. Aku tahu pasti terasa agak sakit untk nya. "Kalo sakit kasi tau Kakak ya. " bisikku. Verni mengangguk. Aku memasukkan semakin dalam.

Kepala peler ku menyentuh selaput tipis. Keperawanan Verni dipertaruhkan. Sekali lagii aku bertanya. "Kamu bener-bener yakin. ? " Verni tidak menjawab. Tiba-tiba dia mendorongkan pantatnya ke arahku dngn kencang.

Selaput daranya robek, peler ku benar-benar masuk ke dlm memek nya. "ah. ! " Jeritnya kencang. Verni mengakhiri masa perawan nya. Di usia 14 tahun. Aku melirik ke bawah, darah segar mengalir pelan dari arah selangkangannya, mengalir turun melalui pahanya.

"Oohh. Oohh. Masuk. Hh. Aku. Dimasukin. Ka. kak. Aaahh. Gede banget. Hhh. " desahnya, seperti berbicara pada dirinya sendiri. Wajah Verni merah padam. Nafasnya tersengal. Aku tahu betapa sakitnya saat pertama.

Aku membelai rambut pendeknya perlahan. "Kalo sudah ga sakit bilang ya sayang. " bisikku lembut. ". Mmh. Terusin saja Kak. " pintanya. "Pelan-pelan. " Aku memasukkan peler ku semakin dlm perlahan-lahan.

Luar biasa sempit dan hangat di dalam. memek Verni seolah menjepit peler ku. Aku terus memasukkan peler ku hingga kepalanya menyentuh ujung memek Verni. Verni memiliki memek yangg sangat dlm untk perempuan semungil dia.

"Siap? " tanyaku. Verni tersenyum, mengangguk. Kutarik peler ku hingga setengah jalan, dan dngn kekuatan penuh aku menghujamkannya kembali ke dalam. "Aaahh! Aaahh. Kakk! Pelan. Pelaa. aann! Oohh. Aaah! " Verni menjerit-jerit keenakan.

Aku menggerakkan pinggulku dngn kuat. Pikiranku semakin kabur. Realitas bahwa perempuan yangg sedang kusetubuhi sekaran adalah adikku sendiri sedikit demi sedikit hilang lenyap. "Ooohh. Verni. Kam. u. Sempit bangett. Aaah. Mmmhh! " desahku.

Aku menjangkau, meremas-remas dadanya yangg menggelayut, berguncang-guncang seirama hantaman peler ku. "Kaa. Aaah. Kakak. punya. Aaah. peler kakak yg. Mmmhh! Kegede. ann. aah. Mh! " jawabnya tak mau kalah.

Verni mengeratkan jepitan memek nya. Enak sekali! peler ku seperti dipijat-pijat di dlm sana. "Aaahh. Aaah. Mmhh! Mmmnn. Kaak. Ohh kakk. " desahnya setiap kali peler ku menghujam ke dlm memek nya.

Pinggulku seakan bergerak otomatis, tak bisa berhenti. Sempit dan hangatnya memek nya, dipadu dngn sensasi empuk pantatnya yangg menghantam-hantam pinggangku sungguh tak dapat dilukiskan dngn kata-kata. Aku menggerakkan pinggulku semakin cepat.

Kepala peler ku menghantam-hantam mulut rahim Verni. "Aaah! Kaakk. Kaa. Ooohh. Tambah. Gede. Aaah! Kakak tambah ged. e. lagi di. Aaah! Aaah! Di dalem. mh! Kak! " Verni menjerit-jerit.

Nafasnya udah tak beraturan sekarang. Aku semakin kencang menggerakkan pinggulku. Suara pantatnya yangg menghantam pinganggku menggema di kamar mandi. "kaakk! kaa. k. lepas! lepas! LEPAAs! Aaakkuu. Mau. Kelu. arr! " Verni tiba-tiba berteriak.

Aku terkejut, segera menarik lepas peler ku dari memek nya yangg sempit. Seketika itu jg Verni menyembur-nyemburkan cairan memek nya. Semprotannya kencang sekali dan berkali-kali. Verni merosot ke lantai, badannya gemetar hebat.

Orgasme pertamanya sungguh dahsyat. Tak menunggu lama, aku berlutut di belakangnya, kutunggingkan pantat Verni dngn kedua tanganku. Jempolku menarik bibir memek nya lebar, dan peler ku langsung menghujam dngn kuat untk kedua kalinya ke dlm tubuh Verni.

Lebih mudah sekarang, apalagi sesudah squirting hebat tadi, memek Verni menjadi sangat becek dan licin. "Aaah! Kak. Kak! Kak. Kakk. Nnnh! " Verni menjerit. Buah pelirku menyenggol-nyenggol klitorisnya, membuat Verni semakin kegilaan menikmati seks pertamanya.

Aku menggerakkan pinggulku dngn sangat cepat, menghantam bagian dlm memek nya dngn kuat. Verni kembali mengencangkan memek nya. "Aah. aah. Aaah. aa. Kaak. Oohh. Ooohh. Enak. Bangett. Mmm. Nnnhh! " desahnya.

Aku rasa saatku udah semakin dekat. "Ooohh. Verni. Kakak. Mau. Keluaarr. Mmmh. Mmhh. Aaahh. " kataku, tecekat. memek nya terasa begittu sempit dan nikmat. "Aaah. Aaah. Kuarin. Di luar. Kaakk. Diluar kakk! Aaahh! " pintanya.

"ohh! vv. Verni! " Aku mencabut peler ku, menjepitkannya di antara kedua pantatnya yangg kencang. Ccrrot! Crrout! Crruuoot! Aku meledakkan peju ku berkali-kali dngn kencang, melumuri punggung dan pinggulnya, bahkan ada beberapa semprotan yangg mengenai belakang kepalanya.

Verni terkulai, bernafas tersengal-sengal. Aku berlutut, melirik ke bawah dan terkejut. peler ku masih sangat tegang. Tubuhku seakan terus meminta tubuh Verni lagii dan lagi. Sebelum ini belum pernah aku masih tegang sesudah dua kali keluar.

"Verni. Lanjut di kamar saja yuk. " ajakku. "Kakak. Hhh. Mas. Ih. Bisa lagi? " tanyanya, tersengal. Aku mengangguk, dngn keheranan yangg sama dengannya. "Kamu masih kuat? " Verni mengangguk lemas, masih terengah-engah dan gemetar.

Kumatikan shower. Aku mengambil handuk untk mengeringkan badanku, kemudian kuselubungkan handuk itu ke tubuh mungil Verni yangg gemetaran. Kubantu mengeringkan badannya. Kuangkat, kugendong adikku ke kamarku. Kubaringkan dia dngn lembut di ranjangku.

Aku naik ke ranjang, menunduk di atas tubuhnya. Nafas Verni udah lebih teratur sekarang, dia menatap mataku. Dadanya yangg besar bergerak naik-turun seiring tarikan nafasnya. "Lanjutin Kak. " katanya sembari tersenyum.

Tanpa kusuruh, dia mengangkat pahanya, mengangkang sangat lebar di hadapanku. Aku mengarahkan peler ku ke bibir memek nya. untk ketiga kalinya, kumasukkan peler ku ke dlm memek nya yangg sempit.

Memek nya yangg semit seperti menyedot peler ku ke dalam. Verni menggeliat, menggigit bibir bawahnya. Kedua tangannya mencengkeram seprei dngn erat. Perlahan, ku entot peler ku ke dlm memek nya.

Tarik, masukkan, tarik, masukkan. Semakin lama semakin kuat, semakin lama semakin cepat. "Aaah. aahh! Teruss. Teruss. ! Terus kakk. Aaah! Ooohh Kaakk! " Verni mendesah liar. Matanya terpejam, menikmati.

Smbil terus menghujamkan peler ku, aku meremas dadanya. Tak cukup, aku membenamkan wajahku di antara dua bantalan besar yangg empuk itu. Jemariku memainkan puting-putingnya yangg tegang. "Kamu. Makan apa sih. Mmhh. Verni. Koq bisa. Mmhh. Gede gini? " tanyaku.

"Aaahh. Aaah. Gata. Uu. Mmm. Tau. Tau tau. Gede. Aaah. " jawabnya asal-asalan. Kujilati puting kirinya. Kusedot kuat-kuat, setengah berharap akan merasakan susu yangg manis menyemprot dari dlm dada nya yangg luar biasa itu.

Verni meringis, cengkraman tangannya di seprei semakin erat. "Aaah! KaaKkk. ! Maauu. Keluar. Lagi! ah! " Verni berteriak. Squirting untk kedua kalinya, peler ku seperti disemprot cairan dingin. Aku tak peduli, kugerakkan pinggulku semakin cepat.

Verni mengangkat pahanya, membantuku. Aku mencengkeram erat pinggangnya, menggerakkan tubuhnya seirama hantaman peler ku. memek nya semakin mengencang. Tiba-tiba, bagian dlm memek Verni seperti bergerak memijat peler ku kuat-kuat dngn bergelombang.

Aku belum pernah merasakan sesuatu yangg seperti ini! Terkejut, aku memperlambat genjotanku. Aku mendongak, menatap wajah Verni yangg merah padam. Dari sorot matanya aku tahu dia dngn sadar melakukan yangg terakhir itu.

"Verni. Va. Gimana. yg. Ooohh yangg tadi itu enak banget! Aahh. " kataku. Verni nyengir lemah. Dadanya mengayun-ayun mengikuti irama gerakan pinggulku. "Kakak. Aah. Kak. Mau. Aaah. Mau lagi? " godanya.

Aku mengangguk cepat-cepat. Verni nyengir semakin lebar. "Tapi. Tapi kalo kamu gitu lagi. Kakak bisa-bisa gak keburu ngeluarin di luar. " kataku, agak cemas. "Gapapa Kak. yangg tadi itu. Mmmhh. Aku jg enak banget. Gapapa. Keluarin di dalem aja. Nnhh. " katanya.

"Hah? Ntar. Ntar kamu. " ". Gapapa. " Aku tahu ini gila. Verni memintaku mengeluarkan peju ku di dlm tubuhnya. Bagaimana kalau ia hamil? Apa kata orangtuaku? Tapi saat logika mulai merasuki pikiranku lagi, Verni menggerak-gerakkan pinggulnya.

Aku seperti otomatis kembali menghujamkan peler ku ke dlm memek nya, menendang jauh-jauh logika. Gerakan pinggulku semakin cepat dan cepat. Verni semakin mengencangkan memek nya. Aku yakin tak lama lagii aku akan keluar jika seperti ini terus.

"Aaah. AaahH!. Kak. Kaakk. Siaap? Aah. Aaa. " tanyanya. Aku mengangguk liar, semakin mempercepat genjotanku. Verni menegang, berkonsentrasi. Gerakanku semakin liar. Nafas kami memburu, tak beraturan. Dan sensasi itu datang lagi! memek nya seakan menyedot peler ku, dan gelombang yangg sangat kuat berkali-kali datang memijat peler ku.

Aku tak tahan lagi, sensasi ini sungguh luar biasa! "Verni! ooh Verni! Kakak mau. Aah. Aaahh! Verni! Ke. keluar! Aaahh. Aaah! " pikiranku mengabur. Mataku berair. "di dalem! di. aah! Di daleemm. Keluarin di dalemm! " jeritnya.

"Verni. Verni! " Aku meledakkan peju ku sekuat-kuatnya ke dlm rahim Verni. Aku keluar jauh lebih banyaak dari yangg sudah-sudah. Satu-dua-empat-enam. peler ku seakan tak mau berhenti meledakkan peju nya.

Enak sekali, hangat sekali. memek sempit Verni tak cukup menahan muatan peju kakaknya. Cairan putih itu mengalir keluar, melumuri bahkan peler ku sendiri, mengalir membasahi sepreiku. Aku mencabut peler ku.

Sudah lemas sekarang. Rasanya agak linu, keluar tiga kali berturut-turut. Cairan putih kental masih mengalir keluar dari memek adikku, tampak seksi sekali. Verni tergeletak lemas di ranjangku. Matanya separuh terpejam.

Mulutnya menganga kecil. Keringat membanjiri tubuh kita. Aku merebahkan diri di sebelahnya, terengah-engah. "Verni. Hhh. Thanks. " "Iya. Aku yangg thanks. Hhh. " bisiknya. ". Enak banget. " Terdiam, hanya suara tarikan nafas terengah kami yangg terdengar.

Berapa lama kemudian, aku menoleh menatap adikku yaang seksi ini.


"Verni. Kalo kamu hamil gimana? Kakak keluar banyaak banget loh tadi di dalem kamu. " tanyaku, cemas. "Gapapa. Nanti menikah sama kakak. " "Ngawur kamu. " Verni tertawa. Terdiam lagi. Aku memejamkan mata, belum pernah aku merasakan seks seenak ini. "Kamu belajar dari mana yangg terakhir tadi itu? " "Gatau.

Tau-tau bisa aja. " "Ohya? Itu enak banget. " "Lebih enak dari Kak Grace? " "Jauh. " kami terdiam. "Kak. " "Ya? " "Mulai sekarang. Kalo kakak pas pengen ngentot.

Kasi tau aku. " katanya. "Aku sepenuhnya milik kakak. " Aku terdiam. Tak bisa menjawab. dlm hati aku tahu kami udah melanggar semua batas dan nilai yangg normal. Tapi kenikmatan ini sungguh luar biasa. "Papa-Mama kan pergi seminggu.

" kataku. ". banyak kesempatan. " Verni tertawa. "Ya. " katanya. "Ntar malem lagi? " "Kalo kuat. " "Besok? " "Sepanjang hari. " Verni tertawa lagi. Tawa yangg renyah dan imut. dia berguling, memeluk lenganku dngn sayang. "Verni.

" "Hm? " "Kapan-kapan. Coba anal yuk. " Verni nyengir. "Yuk. "
Ngentot Adik Coba Anal Seks
Ngentot Adik Coba Anal Seks, cerita sex , Ngentot Adik Coba Anal Seks sedarah cerita bokep indo, kisah hot dewasa Ngentot Adik Coba Anal Seks, cerita porno Ngentot Adik Coba Anal Seks, bacaan porno, kisah seks, cerita bokep cerita dewasa, Ngentot Adik Coba Anal Seks


Aktifkan javascript tekan (F5), untuk membuka halaman
klik link cerita
serta membuka gambar lebih besar.
Cerita seks dewasa update setiap hari.
http://foto-video-cerita-dewasa.blogspot.com/